Selasa, 06 November 2012

Hospital Windows


Two men, both seriously ill, occupied the same hospital room. One man was allowed to sit up in his bed for an hour each afternoon to help drain the fluid from his lungs. His bed was next to the room’s only window. The other man had to spend all his time flat on his back.
The men talked for hours on end. They spoke of their wives and families, their homes, their jobs, their involvement in the military service, where they had been on vacation.
And every afternoon when the man in the bed by the window could sit up, he would pass the time by describing to his roommate all the things he could see outside the window. The man in the other bed began to live for those one-hour periods where his world would be broadened and enlivened by all the activity and color of the world outside.
The window overlooked a park with a lovely lake. Ducks and swans played on the water while children sailed their model boats. Young lovers walked arm in arm amidst flowers of every color of the rainbow. Grand old trees graced the landscape, and a fine view of the city skyline could be seen in the distance.
As the man by the window described all this in exquisite detail, the man on the other side of the room would close his eyes and imagine the picturesque scene.
One warm afternoon the man by the window described a parade passing by. Although the other man couldn’t hear the band – he could see it in his mind’s eye as the gentleman by the window portrayed it with descriptive words.
Days and weeks passed. One morning, the day nurse arrived to bring water for their baths only to find the lifeless body of the man by the window, who had died peacefully in his sleep. She was saddened and called the hospital attendants to take the body away.
As soon as it seemed appropriate, the other man asked if he could be moved next to the window. The nurse was happy to make the switch, and after making sure he was comfortable, she left him alone. Slowly, painfully, he propped himself up on one elbow to take his first look at the world outside. Finally, he would have the joy of seeing it for himself.
Window
He strained to slowly turn to look out the window beside the bed. It faced a blank wall. The man asked the nurse what could have compelled his deceased roommate who had described such wonderful things outside this window. The nurse responded that the man was blind and could not even see the wall. She said, “Perhaps he just wanted to encourage you.”
- Author Unknown

Senin, 05 November 2012

Menjangkau yang Tidak Terjangkau (Bahasa Indonesia)

Puji Tuhan! Hanya karena berkat dan rahmatNya sajalah kami akhirnya berhasil merilis album perdana kami, “Kaulah Pengharapan Kami"

Yesaya 61:1, “Roh Tuhan ALLAH ada padaku, oleh karena Tuhan telah mengurapi aku; Ia telah mengutus aku untuk menyampaikan kabar baik kepada orang – orang sengsara, dan merawat orang – orang yang remuk hati, untuk memberitakan pembebasan kepada orang – orang tawanan, dan kepada orang – orang yang terkurung kelepasan dari penjara.” Setiap kita, sebagai orang – orang yang percaya, telah dipanggil dan dipilih untuk menjangkau mereka yang terhilang, menghapus air mata mereka yang remuk hati, dan memberikan harapan bagi mereka yang putus asa.

Akhir-akhir ini, jumlah penderita autisme kian meningkat dengan cepat. Ini merupakan fenomena yang terjadi secara global. Menurut survey yang diambil dari beberapa negara, 2-4 dari 10.000 anak berpeluang untuk menyandang penyakit autisme ini. Namun, beberapa sumber lain menyatakan bahwa ada sekitar 10-20 dari 10.000 anak dapat menjadi penderita autisme. Menurut survey lain, ada 1 dari 10 anak yang menyandang autisme. Data tersebut memang cukup membingungkan, dan kita tidak dapat tahu secara pasti yang mana yang benar. Namun, satu hal yang dinyatakan oleh semua sumber, yang mana kita dapat pastikan adalah benar, bahwa saat ini jumlah penderita autisme di semua negara sedang bertumbuh dengan hebatnya

Indonesia juga menghadapi masalah yang sama. Jumlah pasien penderita autisme di Indonesia terus bertambah setiap tahunnya, namun kesadaran orang terhadap sindroma ini masih sangat rendah.Menurut data yang dikeluarkan pada Hari Autisme Sedunia di bulan April lalu, jumlah penyandang autisme di Indonesia ada sekitar 7-8 dari 1.000 kelahiran, sedangkan pada masa lalu hanya 1 dari 1.000 kelahiran.

Laporan yang menyedihkan ini telah mendukakan seluruh dunia, dan tentunya Tuhan juga sangat terluka. Tuhan kita yang penuh kasih tidak akan pernah merencanakan hal seburuk ini untuk terjadi. Kalaupun hal ini terjadi, itu semua seijin Tuhan agar KemuliaanNya dapat dinyatakan di tengah – tengah dunia. (Yeremia 29:11-12, “Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan.”) Tuhan telah menciptakan setiap kita luar biasa dan sangat baik adanya (Mazmur 139:14, “Aku bersyukur kepada-Mu oleh karena kejadianku dahsyat dan ajaib; ajaib apa yang Kaubuat, dan jiwaku benar-benar menyadarinya.”) Maka, jika ada hal-hal buruk menimpa anak – anak, itu bukanlah berasal dari Tuhan

Maka, kami memutuskan untuk melangkah dengan iman, meresponi panggilan Tuhan untuk menjamah generasi muda ini, untuk memberikan mereka kembali harapan yang telah dicuri oleh iblis, dan untuk sekali lagi membuka mata mereka kepada masa depan yang cerah yang telah dijanjikan Tuhan pada mulanya. Kami percaya bahwa Tuhan dapat menyembuhkan anak - anak yang membutuhkan ini karena Tuhan masih melakukan mujizat hingga saat ini.

Kita membangun sebuah rumah autis di Jakarta dan akan dimulai pada bulan Desember 2011. Rumah ini diperuntukkan untuk anak anak yang orang tuanya tidak mampu membiayai pendidikan. Pendidikan ini diberikan secara gratis karena kita ingin orang – orang yang kurang mampu juga dapat mengalami kasih dan kebaikan Tuhan. Kami berupaya untuk mengajar mereka dengan dibantu oleh teman-teman yang juga memiliki beban yang sama dan memiliki keahlian khusus.

Merilis album ini sendiri merupakan perintah dari Tuhan. Ia menginginkan kita untuk belajar meletakkan dan menyerahkan kemampuan apa yang telah Tuhan berikan kepada kami, sekecil atau sebesar apapun itu, untuk memberkati sesama.Karena itu, kami tidak akan mengambil keuntungan sedikitpun dari hasil penjualan album ini. Melainkan, kami akan menggunakan semua hasil penjualan album hanya untuk mendanai rumah autis yang sedang kami rintis.

Sebenarnya kami telah memulai pelayanan mendidik orang – orang yang tidak mampu (baik anak maupun orang tua) secara gratis di daerah Joglo, Jakarta Barat sejak tahun 2008 hingga saat ini masih berlangsung. Dan puji Tuhan, pelayanan kami membawa dampak yang luar biasa bagi mereka. Anak – anak yang sebelumnya kesulitan dalam membaca dan menulis di sekolah, kini mereka dapat membaca dan menulis. Tidak hanya itu, ada juga yang berhasil mendapat ranking di kelasnya. Sungguh, ini merupakan pekerjaan tangan Tuhan yang luar biasa, dan kami percaya Ia dapat melakukannya juga dalam kesulitan-kesulitan yang lain.

Kunjungi website kami di www.joyhopeministry.com untuk mengetahui lebih banyak tentang pelayanan kami

Apakah ada di antara anda yang merasa digerakkan untuk turut mengambil bagian dari pelayanan kami? Kiranya Tuhan memberkati setiap tindakan iman, kasih dan belas kasihan yang anda lakukan kepada anak anak yang Tuhan ciptakan dan kasihi sehingga mereka memperoleh pengharapan dan sukacita yang luar biasa dari Tuhan melalui anda. 

Jika anda digerakkan dan ingin membeli album kami (yang di dalamnya terdapat VCD+CD) silahkan menghubungi kami melalui Facebook di : Agnes-Esther-Eunike, komentar di bawah, atau email ke: ster7net@yahoo.com

Terimakasih dan Tuhan memberkati :)

Reach the Unreached (English)

Praise the Lord! By His Mercy and Grace only, we finally are releasing our very first album, “Kaulah Pengharapan Kami” (You are our Hope) 

Isaiah 61:1, "The Spirit of the Lord GOD is upon me; because the LORD hath anointed me to preach good tidings unto the meek; He hath sent me to bind up the brokenhearted, to proclaim liberty to the captives, and the opening of the prison to them that are bound."
All of us, as the believers of Christ, are called and chosen to reach out to the lost, wipe the tears of the brokenhearted, and bring hope to the dejected. 





Lately, the number of autism sufferers is growing rapidly. It is a global phenomenon. According to the survey that was taken from some countries, 2-4 kids from10,000 have the possibility to suffer this autism. Nevertheless, there are even some other sources which claimed that there are about 10-20 kids from every 10,000 can possibly suffer autism. The other survey said that approximately 1 of 10 kids is autistic. The datas are confusing, and we cannot be sure which survey might be right. However, all sources have obviously claimed something that we can be very certain about: The incidence of autism all over the world has truly increased remarkably. 





Indonesia is facing the very same problem. The number of patients with autism in Indonesia keeps on rising every year, yet the awareness from the people to this syndrome is still very low. According to the data that was released on the World Autism Day last April, the number of the patients with autism in Indonesia was estimated about 7-8 of 1,000 birth, while in the last periods was only 1 of 1,000 birth. 





This saddening report has made the whole world grieved, and surely this pierced our God's heart as well. Our loving God would never plan for such thing to ever happen in this world. Even if that happened, it was allowed by God, so that His Glory can be revealed throughout all the earth. (Jeremiah 29:11-12: “For I know the thoughts that I think toward you, saith the LORD, thoughts of peace, and not of evil, to give you an expected end.”) He has created each of us amazingly and wonderfully. (Psalms 139:14: “I will praise Thee; for I am fearfully and wonderfully made; and that my soul knoweth right well.”) Therefore, if miserable things fell upon the children, they are not of God. 





Thereof, we are stepping out in faith, responding God's calling deep within our heart to touch these young generations, to give them back the hopes that were once stolen by the devil, and to once again open their eyes to the bright future that was promised by God in the beginning. We believe that God can heal those children in need because He is still doing miracles up until today. 





We built a house of autism in our own hometown, Jakarta, and are opening it this December 2011. This house is purposed for kids whose parents are not able to fund their education. The education we are giving is free of charge because we want the poor ones to also be able to experience God's goodness and mercy through our service. We, with the help of some of our friends who have experienced the same problem and got special skills, will give our best efforts to teach, train, and equip these kids. 





Releasing this first album itself is a command from God. He wants us to learn how to give what we have been given by Him, no matter how small or big it might be, to bless the people out there who are crying for helps. Therefore, we are not going to gain any profits from the selling of this album. Instead, we are using whatever we will get from it to fund the free school we are initiating. 




We have actually started our service by educating the poor people (both the kids and the parents) freely in a place around Joglo, Western Jakarta since 2008 and it is still going on until today. And praise God, our service did make a great impact in that place. Children who used to be incapable of reading and writing, are now able to read and write. Not only that, they can even get ranks in their schools and become the best students among their classmates. Indeed, this was such an amazing work done by God, and we believe He can also do it in the other hardships. 

You can check our website in www.joyhopeministry.com to know more about our family's ministry. 

Does any of you feel moved to be part of our ministry? May God bless every act of faith, love, and compassion that are done by all of you to the children whom God created and loved, so that they could get hold of the hope and joy which are incredible from you. 

If you feel moved and want to buy our album (which comprises CD+VCD), you may contact us through Facebook:
Agnes-Esther-Eunike ; or comment below ; or email to: ster7net@yahoo.com 

Thank you and God bless.  :)

Jumat, 02 November 2012

Love and Perseverance do Make a Difference


I live in Jakarta, a bustling metropolitan city of Indonesia. A city where massive buildings and sumptuous mansions are almost everywhere on sight. I had never known that among all these luxuries of Jakarta, there are people living in such destitution and indigence; and while everyone else is having their large feast, there are people who just scarcely have scraps of food to eat. I had never realized that behind all these towering skyscrapers, there are slums which are utterly deplorable.

I was walking some meters away from my residential area when I got promptly startled by the sight in front of me – a sight that I had never realized it has always been there. Behind the old walls at the roadside, there lies a residence which consisted of houses that can hardly be called as “houses.” I walked through the sloppy path as I looked around. Half-naked children were running around; some adults were getting water from old pipes; the others were sitting down at the porch. Squalid, cramped, and unkempt, these houses stood in shocking contrast to the wholesomeness of country living. I stifled my tears. What a poignant, heart-rending sight!

I stopped and gazed towards the walls enclosing that place. From that spot, I could vividly see the luxurious houses across the road. Houses that are ten times more spacious and splendid than these people's. Tears began to keep streaming down my face. They do always see us – our lavish life, while for them, to live just one more day is something they have to arduously be grappling with. No wonder we have a high number of crimes in this city. The social gap is too large.

Who would ever love poverty or crimes? These kids who were born in this kind of neighborhood, did they ever choose? Lots of them finally just chose to succumb to their wretched condition and despair. They do not know how to rise up from their dismal life, catch a glimpse of hope, and transform their and their descendent's life!

Just giving them money will not help their life. A Chinese proverb says, “Give a man a fish and you feed him for a day. Teach a man to fish and you feed him for a lifetime.” The first step to get out of poverty is to get rid of poverty mentality. We need to educate them, change their mindset, and build their character!

With this fervent desire to see changes in our society, I and my family decided to step out and reach these helpless people. We cannot wait for the government or anybody else to do it. We, as the Indonesians, must take the initiative for the sake of our own nation. We opened a free school for poor people to teach them how to read, write, and count. We also opened a free school for poor children with special needs to train and cultivate their talents. We instill in their minds the idea of perseverance, diligence, determination, and obedience. We also give out healthy foods and drinks for our students after every class and for their relatives occasionally. As a result, many children's lives were transformed, and their parents could once again see hopes in their children's lives.

People can disparage the work we are doing. Maybe it seems like nothing much is changed yet. However, will watering seeds everyday be futile just because it does not grow immediately? Will little works done faithfully and with great love be vain?

Our desire, as the seed, is to bring hope to the dejected, bind up the brokenhearted, and once again revive the spark of light within every soul. We yearn to see our city – and nation eventually – freed from this bondage of poverty and crime. And as a seed must be planted into the fertile soil, dreams must be planted into hearts that are filled with love that never dies.

Planted seed will not grow without consistent care. It must be fertilized and watered continually. Even when the seeds seem to not grow immediately, we have to keep doing it unrelentingly and indefatigably until it sprouts and gives out fruits. We must maintain a vibrant faith and let the love that burns within our heart keep us doing what we know is right.

This is how we will be able to create the future we want – the future of our life, family, country, and even the whole world. If only each of us has that passion to do what we can, initiatively and faithfully, seeds will begin to sprout and grow. At last, a huge, immense forest of dreams will become a reality.

“Love never fails; Character never quits; and with patience and perseverance, dreams do come true!” -The Pistol (Movie)

Anti-Corruption Youth


Ladies and gentlemen, I understand, that many of us have become so weary and exasperated seeing how corruption is getting very prevalent in our country. In almost every area of occupation, corruption can be done in a highly organized way, being barely touched by the law.

Before I proceed, I would like to explain to you how corruption is defined generally and specifically.
According to my research, corruption is generally defined as a dishonest and fraudulent conduct done for private gains. Although corruption is commonly attributed to the government sector, it also prevails tremendously in the business sector.
Association of Certified Fraud Examiners expounds what corruption is, in a form of a Fraud Tree. Fraud is divided into three: Corruption, Asset Misappropriation, and Fraudulent Statements. Corruption itself is divided into four branches: Conflicts of Interest, Bribery, Illegal Gratuities, and Economic Extortion. Conflict of Interest occurs when a person has an undisclosed economic or personal interest in a transaction that adversely affects the company. Bribery, (the one we are so familiar with,) can be defined as offering or giving anything of value to influence an official act or business decision. Illegal Gratuities are similar to bribes, but there is not necessarily intent to influence a business decision. Usually, the gift is given after the official act is done or after a business deal is over, which makes it hard to prove. Economic Extortion is basically the opposite of a bribery fraud. Instead of offering, the person demands.

According to Indonesia Corruption Watch, just within a period from January 1st – June 31st, 2012, Indonesia has lost 1220 billions rupiah due to 285 cases of corruption. It is also estimated that about 30% of the national budget (APBN) is lost to corruption.
Even so, many efforts have been tried to be made to eradicate corruption. Corruption Eradication Commission has been long erected. However, corruption is still getting rampant and keeps undermining the rule of law. What is actually going on?

Association of Certified Fraud Examiners mentions in its video three causes why people commit fraud. They call it the Fraud Triangle. First reason is that the person may be trapped under an onerous pressure, second he may a great opportunity to do so, and third he rationalizes corruption as not a crime because the majority is doing it.

Bess Myerson says, “The accomplice to the crime of corruption is frequently our own indifference.” Ladies and gentlemen, we own this country. Young people, the future of this nation is in our hands. We are the ones who will be the future leaders of Indonesia. We may not be able to change the present condition, but we ARE more than able to change the FUTURE condition. So where are we bringing this nation? To a deeper darker pit of corruption? Or to those marvelous days when truth speaks louder than money?

It doesn't take an extreme genius to change this nation. But we can change Indonesia. We – who are young and dauntless enough to take hold of integrity even under terrible pressure. We – who are daring enough to remain trustworthy even the so-called opportunity is right in front of our eyes. We – who are bold enough to stop rationalizing things and stay doing what is right just because it IS right.
And, we – who are courageous enough to stake our life and ego for the sake of righteousness and justice.

Young people, let us educate, train, and equip ourselves. But on top of all, let integrity rule over our life before destruction does. As Philip Dormer says, Keep your hands clean and pure from the infamous vice of corruption. Accept no present whatever; let your character in that respect be transparent and without the least speck.
And remember that as every sweet oranges begin with very tiny orange seeds, so is integrity.
If it is not we who start, who else will?

Selasa, 13 September 2011

Aku Menangis untuk Adikku Enam Kali

Aku dilahirkan di sebuah dusun pegunungan yang sangat terpencil. Hari demi hari, orang tuaku membajak tanah kering kuning, dan punggung mereka menghadap ke langit. Aku mempunyai seorang adik, tiga tahun lebih muda dariku. Suatu ketika, untuk membeli sebuah sapu tangan yang mana semua gadis di sekelilingku kelihatannya membawanya, Aku mencuri lima puluh sen dari laci ayahku. Ayah segera menyadarinya. Beliau membuat adikku dan aku berlutut di depan tembok, dengan sebuah tongkat bambu di tangannya. “Siapa yang mencuri uang itu?” Beliau bertanya. Aku terpaku, terlalu takut untuk berbicara. Ayah tidak mendengar siapa pun mengaku, jadi Beliau mengatakan, “Baiklah, kalau begitu, kalian berdua layak dipukul!” Dia mengangkat tongkat bambu itu tingi-tinggi. Tiba-tiba, adikku mencengkeram tangannya dan berkata, “Ayah, aku yang melakukannya!”

Tongkat panjang itu menghantam punggung adikku bertubi-tubi. Ayah begitu marahnya sehingga ia terus menerus mencambukinya sampai Beliau kehabisan nafas. Sesudahnya, Beliau duduk di atas ranjang batu bata kami dan memarahi, “Kamu sudah belajar mencuri dari rumah sekarang, hal memalukan apa lagi yang akan kamu lakukan di masa mendatang? Kamu layak dipukul sampai mati! Kamu pencuri tidak tahu malu!”

Malam itu, ibu dan aku memeluk adikku dalam pelukan kami. Tubuhnya penuh dengan luka, tetapi ia tidak menitikkan air mata setetes pun. Di pertengahan malam itu, saya tiba-tiba mulai menangis meraung-raung. Adikku menutup mulutku dengan tangan kecilnya dan berkata, “Kak, jangan menangis lagi sekarang. Semuanya sudah terjadi.”

Aku masih selalu membenci diriku karena tidak memiliki cukup keberanian untuk maju mengaku. Bertahun- tahun telah lewat,tapi insiden tersebut masih kelihatan seperti baru kemarin. Aku tidak pernah akan lupa tampang adikku ketika ia melindungiku. Waktu itu, adikku berusia 8 tahun. Aku berusia 11.

Ketika adikku berada pada tahun terakhirnya di SMP, ia lulus untuk masuk ke SMA di pusat kabupaten. Pada saat yang sama,saya diterima untuk masuk ke sebuah universitas propinsi. Malam itu, ayah berjongkok di halaman, menghisap rokok tembakaunya, bungkus demi bungkus. Saya mendengarnya memberengut, “Kedua anak kita memberikan hasil yang begitu baik…hasil yang begitu baik…” Ibu mengusap air matanya yang mengalir dan menghela nafas, “Apa gunanya? Bagaimana mungkin kita bisa membiayai keduanya sekaligus?”

Saat itu juga, adikku berjalan keluar ke hadapan ayah dan berkata, “Ayah, saya tidak mau melanjutkan sekolah lagi,telah cukup membaca banyak buku.” Ayah mengayunkan tangannya dan memukul adikku pada wajahnya. “Mengapa kau mempunyai jiwa yang begitu keparat lemahnya? Bahkan jika berarti saya mesti mengemis di jalanan saya akan menyekolahkan kamu berdua sampai selesai!” Dan begitu kemudian ia mengetuk setiap rumah di dusun itu untuk meminjam uang. Aku menjulurkan tanganku selembut yang aku bisa ke muka adikku yang membengkak, dan berkata, “Seorang anak laki-laki harus meneruskan sekolahnya; kalau tidak ia tidak akan pernah meninggalkan jurang kemiskinan ini.” Aku, sebaliknya, telah memutuskan untuk tidak lagi meneruskan ke universitas.

Siapa sangka keesokan harinya, sebelum subuh datang, adikku meninggalkan rumah dengan beberapa helai pakaian lusuh dan sedikit kacang yang sudah mengering. Dia menyelinap ke samping ranjangku dan meninggalkan secarik kertas di atas bantalku: “Kak, masuk ke universitas tidaklah mudah. Saya akan pergi mencari kerja dan mengirimu uang.” Aku memegang kertas tersebut di atas tempat tidurku, dan menangis dengan air mata bercucuran sampai suaraku hilang. Tahun itu, adikku berusia 17 tahun. Aku 20.

Dengan uang yang ayahku pinjam dari seluruh dusun, dan uang yang adikku hasilkan dari mengangkut semen pada punggungnya di lokasi konstruksi, aku akhirnya sampai ke tahun ketiga (di universitas). Suatu hari, aku sedang belajar di kamarku, ketika teman sekamarku masuk dan memberitahukan, “Ada seorang penduduk dusun menunggumu di luar sana!” Mengapa ada seorang penduduk dusun mencariku? Aku berjalan keluar, dan melihat adikku dari jauh, seluruh badannya kotor tertutup debu semen dan pasir. Aku menanyakannya, “Mengapa kamu tidak bilang pada teman sekamarku kamu adalah adikku?” Dia menjawab, tersenyum, “Lihat bagaimana penampilanku. Apa yang akan mereka pikir jika mereka tahu saya adalah adikmu? Apa mereka tidak akan menertawakanmu?” Aku merasa terenyuh, dan air
mata memenuhi mataku. Aku menyapu debu-debu dari adikku semuanya, dan tersekat-sekat dalam kata-kataku, “Aku tidak perduli omongan siapa pun! Kamu adalah adikku apa pun juga! Kamu adalah adikku bagaimana pun penampilanmu…”

Dari sakunya, ia mengeluarkan sebuah jepit rambut berbentuk kupu-kupu. Ia memakaikannya kepadaku, dan terus menjelaskan, “Saya melihat semua gadis kota memakainya. Jadi saya pikir kamu juga harus memiliki satu.” Aku tidak dapat menahan diri lebih lama lagi. Aku menarik adikku ke dalam pelukanku dan menangis dan menangis. Tahun itu, ia berusia 20. Aku 23.

Kali pertama aku membawa pacarku ke rumah, kaca jendela yang pecah telah diganti, dan kelihatan bersih di mana-mana. Setelah pacarku pulang, aku menari seperti gadis kecil di depan ibuku. “Bu, ibu tidak perlu menghabiskan begitu banyak waktu untuk membersihkan rumah kita!” Tetapi katanya, sambil tersenyum, “Itu adalah adikmu yang pulang awal untuk membersihkan rumah ini. Tidakkah kamu melihat luka pada tangannya? Ia terluka ketika
memasang kaca jendela baru itu..”

Aku masuk ke dalam ruangan kecil adikku. Melihat mukanya yang kurus, seratus jarum terasa menusukku. Aku mengoleskan sedikit saleb pada lukanya dan membalut lukanya. “Apakah itu sakit?” Aku menanyakannya. “Tidak, tidak sakit. Kamu tahu, ketika saya bekerja di lokasi konstruksi, batu-batu berjatuhan pada kakiku setiap waktu. Bahkan itu tidak menghentikanku bekerja dan…” Ditengah kalimat itu ia berhenti. Aku membalikkan tubuhku memunggunginya, dan air mata mengalir deras turun ke wajahku. Tahun itu, adikku 23. Aku berusia 26.

Ketika aku menikah, aku tinggal di kota. Banyak kali suamiku dan aku mengundang orang tuaku untuk datang dan tinggal bersama kami, tetapi mereka tidak pernah mau. Mereka mengatakan, sekali meninggalkan dusun, mereka tidak akan tahu harus mengerjakan apa.
Adikku tidak setuju juga, mengatakan, “Kak, jagalah mertuamu saja. Saya akan menjaga ibu dan ayah di sini.” Suamiku menjadi direktur pabriknya. Kami menginginkan adikku mendapatkan pekerjaan sebagai manajer pada departemen pemeliharaan. Tetapi adikku menolak tawaran tersebut. Ia bersikeras memulai bekerja sebagai pekerja reparasi.

Suatu hari, adikku diatas sebuah tangga untuk memperbaiki sebuah kabel, ketika ia mendapat sengatan listrik, dan masuk rumah sakit. Suamiku dan aku pergi menjenguknya. Melihat gips putih pada kakinya, saya menggerutu, “Mengapa kamu menolak menjadi manajer? Manajer tidak akan pernah harus melakukan sesuatu yang berbahaya seperti ini. Lihat kamu sekarang, luka yang begitu serius. Mengapa kamu tidak mau mendengar kami sebelumnya?”

Dengan tampang yang serius pada wajahnya, ia membela keputusannya. “Pikirkan kakak ipar–ia baru saja jadi direktur, dan saya hampir tidak berpendidikan. Jika saya menjadi manajer seperti itu, berita seperti apa yang akan dikirimkan?”

Mata suamiku dipenuhi air mata, dan kemudian keluar kata-kataku yang sepatah-sepatah: “Tapi kamu kurang pendidikan juga karena aku!” “Mengapa membicarakan masa lalu?” Adikku menggenggam tanganku. Tahun itu, ia berusia 26 dan aku 29.

Adikku kemudian berusia 30 ketika ia menikahi seorang gadis petani dari dusun itu. Dalam acara pernikahannya, pembawa acara perayaan itu bertanya kepadanya, “Siapa yang paling kamu hormati dan kasihi?” Tanpa bahkan berpikir ia menjawab, “Kakakku.”

Ia melanjutkan dengan menceritakan kembali sebuah kisah yang bahkan tidak dapat kuingat. “Ketika saya pergi sekolah SD, ia berada pada dusun yang berbeda. Setiap hari kakakku dan saya berjalan selama dua jam untuk pergi ke sekolah dan pulang ke rumah. Suatu hari, Saya kehilangan satu dari sarung tanganku. Kakakku memberikan satu dari kepunyaannya. Ia hanya memakai satu saja dan berjalan sejauh itu. Ketika kami tiba di rumah, tangannya begitu
gemetaran karena cuaca yang begitu dingin sampai ia tidak dapat memegang sumpitnya. Sejak hari itu, saya bersumpah, selama saya masih hidup, saya akan menjaga kakakku dan baik kepadanya.”

Tepuk tangan membanjiri ruangan itu. Semua tamu memalingkan perhatiannya kepadaku.

Kata-kata begitu susah kuucapkan keluar bibirku, “Dalam hidupku, orang yang paling aku berterima kasih adalah adikku.” Dan dalam kesempatan yang paling berbahagia ini, di depan kerumunan perayaan ini, air mata bercucuran turun dari wajahku seperti sungai.

Kisah Pohon Apel

appl.jpg


Boy-And-The-Apple-Tree-03.jpg


Suatu ketika, hiduplah sebatang pohon apel besar dan anak lelaki yang senang bermain-main di bawah pohon apel itu setiap hari. Ia senang memanjatnya hingga ke pucuk pohon, memakan buahnya, tidur-tiduran di keteduhan rindang daun-daunnya. Anak lelaki itu sangat mencintai pohon apel itu. Demikian pula pohon apel sangat mencintai anak kecil itu.

Waktu terus berlalu. Anak lelaki itu kini telah tumbuh besar dan tidak lagi bermain-main dengan pohon apel itu setiap harinya. Suatu hari ia mendatangi pohon apel. Wajahnya tampak sedih.

“Ayo ke sini bermain-main lagi denganku,” pinta pohon apel itu.

“Aku bukan anak kecil yang bermain-main dengan pohon lagi,” jawab anak lelaki itu.

“Aku ingin sekali memiliki mainan, tapi aku tak punya uang untuk membelinya.”

Pohon apel itu menyahut, “Duh, maaf aku pun tak punya uang……… tetapi kau boleh mengambil semua buah apelku dan menjualnya. Kau bisa mendapatkan uang untuk membeli mainan kegemaranmu.”

Anak lelaki itu sangat senang. Ia lalu memetik semua buah apel yang ada di pohon dan pergi dengan penuh suka cita. Namun, setelah itu anak lelaki tak pernah datang lagi. Pohon apel itu kembali sedih.

Suatu hari anak lelaki itu datang lagi. Pohon apel sangat senang melihatnya datang.

“Ayo bermain-main denganku lagi,” kata pohon apel.

“Aku tak punya waktu,” jawab anak lelaki itu.

“Aku harus bekerja untuk keluargaku. Kami membutuhkan rumah untuk tempat tinggal. Maukah kau menolongku?” “Duh, maaf aku pun tak memiliki rumah. Tapi kau boleh menebang semua dahan rantingku untuk membangun rumahmu,” kata pohon apel.

Kemudian anak lelaki itu menebang semua dahan dan ranting pohon apel itu dan pergi dengan gembira. Pohon apel itu juga merasa bahagia melihat anak lelaki itu senang, tapi anak lelaki itu tak pernah kembali lagi. Pohon apel itu merasa kesepian dan sedih.

Pada suatu musim panas, anak lelaki itu datang lagi. Pohon apel merasa sangat bersuka cita menyambutnya.

“Ayo bermain-main lagi deganku,” kata pohon apel. “Aku sedih,” kata anak lelaki itu. “Aku sudah tua dan ingin hidup tenang. Aku ingin pergi berlibur dan berlayar. Maukah kau memberi aku sebuah kapal untuk pesiar?”

“Duh, maaf aku tak punya kapal, tapi kau boleh memotong batang tubuhku dan menggunakannya untuk membuat kapal yang kau mau. Pergilah berlayar dan bersenang-senanglah.” Kemudian, anak lelaki itu memotong batang pohon apel itu dan membuat kapal yang diidamkannya. Ia lalu pergi berlayar dan tak pernah lagi datang menemui pohon apel itu.

Akhirnya, anak lelaki itu datang lagi setelah bertahun-tahun kemudian. “Maaf anakku,” kata pohon apel itu. “Aku sudah tak memiliki buah apel lagi untukmu.” “Tak apa. Aku pun sudah tak memiliki gigi untuk mengigit buah apelmu,” jawab anak lelaki itu.

“Aku juga tak memiliki batang dan dahan yang bisa kau panjat,” kata pohon apel. “Sekarang, aku sudah terlalu tua untuk itu,” jawab anak lelaki itu. “Aku benar-benar tak memiliki apa-apa lagi yang bisa aku berikan padamu. Yang tersisa hanyalah akar-akarku yang sudah tua dan sekarat ini,” kata pohon apel itu sambil menitikkan air mata. “Aku tak memerlukan apa-apa lagi sekarang,” kata anak lelaki. “Aku hanya membutuhkan tempat untuk beristirahat. Aku sangat lelah setelah sekian lama meninggalkanmu.” “Oooh, bagus sekali.

Tahukah kau, akar-akar pohon tua adalah tempat terbaik untuk berbaring dan beristirahat. Mari, marilah berbaring di pelukan akar-akarku dan beristirahatlah dengan tenang.” Anak lelaki itu berbaring di pelukan akar-akar pohon. Pohon apel itu sangat gembira dan tersenyum sambil meneteskan air matanya.

Ini adalah cerita tentang kita semua. Pohon apel itu adalah orang tua kita. Ketika kita muda, kita senang bermain-main dengan ayah dan ibu kita. Ketika kita tumbuh besar, kita meninggalkan mereka, dan hanya datang ketika kita memerlukan sesuatu atau dalam kesulitan. Tak peduli apa pun, orang tua kita akan selalu ada di sana untuk memberikan apa yang bisa mereka berikan untuk membuat kita bahagia. Anda mungkin berpikir bahwa anak lelaki itu telah bertindak sangat kasar pada pohon itu, tetapi begitulah cara kita memperlakukan orang tua kita.

Sebarkan cerita ini untuk mencerahkan lebih banyak sahabat dan rekan. Dan, yang terpenting: cintailah orang tua kita. Sampaikan pada orang tua kita sekarang, betapa kita mencintainya; dan berterima kasih atas seluruh hidup yang telah dan akan diberikannya pada kita.